Saatnya Kita Berangkat

Buat engkau yang masih berdiri di ujung jalan.

Sebelum seluruh lorong tidak lagi memantulkan gema. Sebelum semua kesia-siaan mengirim berjuta sesal. Sebelum segala sesal menahtakan luka batin. Sebelum seluruh luka menjadi diam. Sebelum segala sesal tidak lagi berguna. Sebelum bahasa diplomasi tidak punya makna. Sebelum semua retorika kehilangan daya pesonanya. Sebelum korban hawa nafsu menyemburkan bara kemaksiatan yang bergulung-gulung membentuk badai yang mengamuk, menerjang dan menyapu bersih segala makna, yang menjadi nyala kebencian menghanguskan semua rasa cinta.

Ketika diam membongkah menjadi badai, menyerbu dan menyapu apa saja. Ketika diam menjadi gelombang pasang, menerkam dan menenggelamkan apa saja dan berubah menjadi air bah yang kemudian menyeret dan menghanyutkan apa saja. Ketika diam telah kehilangan maknanya. Ketika diam berubah menjadi gayut kegelapan lalu jatuh menimpa atap bangunan moralitas, merobohkan sendi-sendinya, menimbun eksistensi kita dalam puing yang bisu, diam telah keluar dari konteksnya.

Sudah saatnya kita berangkat.

Sekaranglah saatnya kita tinggalkan semua realitas busuk itu sebelum membusuk menjadi humus bagi pohon-pohon liar yang menyebarkan miliaran parasite yang akan menghisap kualitas diri sehingga kemanusiaan mati meranggas.

Sebab hari-hari menuju terminal akhir begitu cepat berlalu. Seharusnya kita bergerak cepat kesana. Tidak hanyut dalam arus syahwat, tenggelam dalam kesenangan sesaat, dan tidak main-main supaya tidak terpelanting dari jalanNya yang menyebabkan kita terjerambab ke dalam lembah kepedihan yang abadi.

Saatnya kita berangkat.

Meninggalkan segala yang mengikat kaki sehingga susah untuk melangkah. Meninggalkan sepi dalam keramaian, meninggalkan gelap dalam terang, meninggalkan segala beban yang membebani perjalanan.

Janganlah ragu, tinggalkan saja semua beban yang tak diperlukan. Lupakan semua yang pernah menjerat kaki kita sehingga sukar melangkah. Tidak usah bimbang sebab semua kebimbangan akan mengikis ketegaran di perjalanan. Jangan gubris semua itu. Berjalanlah terus, walaupun setan telah menebar berjuta ranjau. Hindarilah, atau musnahkan semuanya dengan penyapu ranjau.

Jakarta, Juni 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s